Jumat, 04 Januari 2013

Pelanggaran HAM dan Kejahatan perang di Suriah


Hukum perang maupun hak asasi manusia (HAM) internasional seakan telah dipandang sebelah mata, dengan dalih bahwa konflik yang terjadi merupakan konflik internal Suriah dan menganggap bahwa tidak sepatutnya negara lain ikut campur urusan dalam negeri mereka, hal ini telah mereka jadikan sebagai senjata politik untuk menekan intervensi asing terutama dari negara-negara liga arab.

Saat ini  setidaknya lebih dari 60.000 orang tewas dalam konflik berdarah di Suriah dan kebanyakan korban tewas dari warga sipil tak bersenjata, dalam konflik bersenjata antara pejuang aktivis oposisi dengan pemerintah berkuasa, Bashar al Assad. Korban terbanyak tewas oleh serangan dari pasukan pemerintah Assad, diantaranya di kota Homs, Houla Damaskus, dan Aleppo. Menurut badan permerhati Hak Asasi Manusia (HAM) di Suriah, Syrian Obervatory for Human Rights, yang menyampaikan bahwa pasukan rezim memasuki Jdaidet Artuz (barat daya Damaskus) menangkap sekitar 100 pemuda dan dibawa ke sebuah sekolah lalu disiksa.

Pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan oleh pihak pemerintahan Assad semakin memperlihatkan tidak berlakunya hukum kemanusiaan yang relevan, yang terjadi hanyalah hukum rimba dimana yang kuat akan berkuasa dan yang lemah hanya akan menjadi mangsa.  Penangkapan dan penyiksaan tawanan perang dari warga sipil pihak aktivis oposisi oleh pasukan pemerintahan Assad semakin membuat miris banyak orang.  Seakan-akan mereka hidup sendirian di muka bumi ini tanpa melihat adanya bangsa lain yang terus memantau perkembangan konflik yang terjadi. Perlindungan terhadap warga sipil sebenarnya telah diatur oleh Hukum Humaniter Internasional dalam konvensi Jenewa 1949 ke-4 tentang : 
Perlindungan terhadap Warga Sipil saat Terjadinya Perang, pasal 3 ayat 1 butir (a) yakni “Orang-orang yang tidak turut serta aktif dalam sengketa itu, termasuk anggota angkatan perang yang telah meletakkan senjata mereka serta mereka yang sudah tidak lagi turut serta (hors de combat) karena sakit, luka-luka, penahanan, atau sebab lain apapun, dalam keadaan bagaimanapun harus diperlakukan dengan kemanusiaan, tanpa merugikan perbedaan apapun juga yang didasarkan atas suku, warna kulit, agama atau kepercayaan, kelamin, keturunan atau kekayaan, atau setiap kriteria lainnya yang serupa itu”.

Pelanggaran hak terhadap perlindungan warga sipil maupun mereka yang tidak turut atau aktif dalam konflik ini tentunya akan menyeret para pengambil keputusan di tingkat komando militer sebagai penjahat hak asasi manusia bahkan juga mungkin sebagai penjahat perang, apabila komando militer pasukan Pemerintah Assad melakukan kekejaman terhadap tawanan perang dari pihak pasukan aktivis oposisi seperti penyiksaan hingga pembantaian dimana para tawanan dalam keadaan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan.

Harapan kita semoga konflik cepat diakhiri dan hendaknya PBB juga  konsisten untuk melakukan investigasi terhadap pelanggaran hak asazi manusia maupun pelanggaran kejahatan perang di Suriah.  Ribuah korban tak berdosa telah berjatuhan terutama dari kalangan warga sipil, tidak ada alasan yang logis bagi PBB untuk meloloskan pelanggaran hukum internasional yang berkaitan dan hak asazi manusia maupun kejahatan perang yang terjadi di Suriah.


Related post :


0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...