Sabtu, 05 Januari 2013

Nasib warga sipil dan pengungsi Suriah


Konflik di Suriah yang saat ini masih belum menemukan titik terang dan telah menimbulkan banyak penderitaan juga kepedihan bagi warga sipil, terutama anak-anak, kaum perempuan maupun orang-orang tua yang terpaksa harus bertahan hidup bukan saja dari imbas pertempuran konflik bersenjata namun juga dari cuaca dingin yang mulai datang. {image}

Dinginnya cuaca di Suriah terutama di camp pengungsi Al Caem, Iraq yang berjarak sekitar 9 mil dari perbatasan Suriah, sekitar 8.000 pengungsi di sana, termasuk pengungsi dari Libanon, Turki dan Yordania terpaksa harus bertahan hidup dari dinginnya cuaca dengan termperatur kurang dari 10 derajat celcius di siang hari. Cuaca dingin ini sudah tentu akan membuat para pengungsi, khususnya anak-anak dipaksa semampu mungkin bertahan dari cuaca dingin. "Di siang hari pun, aku menggigil karena suhunya mencapai 10 derajat celcius," ujar bocah berusia 10 tahun yang menjadi salah satu pengungsi di Al-qaem.  Inilah realita para pengungsi dari warga sipil yang terpaksa hanya bisa pasrah dan berharap semoga konflik cepat berakhir dan mereka tidak hidup dalam ketidakpastian di kamp-kamp pengungsi.

Sebelumnya kondisi para pengungsi di kamp pengungsian yang membuat miris, tanpa tempat tidur dan harta berharga, belum lagi satu tenda dihuni oleh 14 orang yang berdesak-desakan di kasur. Sulitnya mendapatkan air, juga tidak jarang membuat para pengungsi tidak mandi sampai satu bulan lebih dan situasi di kamp yang dirasakan oleh para pengungsi ini menggugah sedikitpun rasa iba dunia atas konflik yang terjadi di tanah syam ini. {Referensi}

Masih banyak lagi ribuan atau bahkan jutaan penduduk dari kalangan warga sipil yang harus hidup dalam ketidakpastian dari konflik yang masih belum tampak akan berakhir ini.  Dalam setiap revolusi maupun reformasi, memang akan menimbulkan konsekuensi yang harus diterima, terutama instabilitas sosial, politik, hukum dan ekonomi yang berimbas pada rakyat.  Namun bukan berarti sebuah revolusi maupun reformasi melupakan nilai-nilai kemanusiaan apalagi mengorbankan darah dari orang-orang tak berdosa tanpa alasan. Hal yang terjadi dilapangan para kelompok pemberontak/milisi berusaha mencegah warga untuk mengungsi dan menjadikan mereka tameng, ini menjadi kesulitan dari pihak pemerintah untuk mengungsikan warganya yang terjebak di wilayah konflik..



Related post :

0 komentar:

Posting Komentar