Kamis, 02 Agustus 2012

Warna kelam Ramadhan

Tahun 2012 ini bisa dikatakan tahun penuh konflik, di Indonesia konflik dan pertikaian masih sering terjadi...di Riau konflik antara perusahaan sawit dengan warga masih berlangsung, pertumpahan darah masih saja berlanjut, tawuran antara kelompok masyarakat maupun siswa juga masih berlangsung.


Arogansi dari budhist ethnic rakhine

Sementara diluar negeri konflik warga dengan Pemerintahan masih terus terjadi, di Myanmar, korban dari etnis muslim Rohingya terus berjatuhan, dimana Pemerintah Junta Militer Mynmar tidak bersikap adil terhadap perbedaan etnis Rohingya yang keturunan Bangladesh dengan ethinis Budhist Rakhine yang pribumi Myanmar. Sungguh rendah manusia yang hanya melihat ethnis dari sudut pandang yang sempit ini. Meskipun sebenarnya ethnis Rohingya ini sudah lama menetap turun temurun di Myanmar sejak 1948.

Kebiadaban Pemerintah junta militer Myanmar ini sangat tidak sejalan dengan prinsif ASEAN untuk saling tenggang rasa dalam perbedaan baik ethnis maupun agama.


Pasukan oposisi Suriah
Di timur tengah ribuan warga yang menentang Pemerintah Suriah di bawah kepemimpinan Bashar al-Assad terus berlangsung meskipun para menteri luar negeri Liga Arab meminta Preside Bashar al-Assad mundur, pertempuran demi pertempuran antara pasukan perlawanan dari rakyat Suriah dengan pasukan militer Pemerintahan Bashar al-Assad semakin alot dan keras. Aktivis oposisi melaporkan lebih banyak tentang pertempuran yang terjadi di Damaskus di area Barat daya. Sikap dari Presiden Suriah yang saat ini berkuasa Bashar al-Assad yang menolak mundur yang menjadi pemicu perlawanan bersenjata dari kelompok oposisi, Bashar al-Assad mempertahankan kekuasaannya dengan segenap kekuatan militer yang dimilikinya meski cara ini hanya menunda waktu yang sebenarnya hukum kekuasaan apabila rakyat melakukan perlawanan maka itulah akhir dari kekuasaan.

Moslem Beijing
Di Cina tepatnya di Provinsi Xinjiang pihak berwenang telah mengeluarkan pengumuman bahwa setiap warga atau pekerja Uighur jika ditemukan tidak makan siang selama bulan Ramadhan bisa kehilangan pekerjaan mereka. Ini merupakan bagian dari kampanye Pemerintah komunis daerah Xinjiang, tempat sekitar 7 juta kelompok etnis muslim Uighur tinggal, untuk tidak melakukan ritual keagamaan mereka selama bulan puasa Ramadhan.

Provinsi Xinjiang merupakan daerah yang dihuni penduduk Uighur, kaum minoritas muslim di Cina. Menurut catatan pemerintah komunis ini, di provinsi ini telah terjadi bentrokan antar etnis terburuk pada bulan Juli 2009. Bentrokan ini melibatkan warga Uighur dan kelompok etnis Han yang merupakan mayoritas di Xinjiang. Tercatat 200 orang meninggal dari kedua belah pihak saat bentrokan terjadi.

Ironis dan sangat menyakitkan hati umat Muslim dimanapun berada atas sikap Pemerintah komunis Cina ini. Tapi itulah resiko tinggal di negara komunis, tindakan kejahiliahan Pemerintah Cina ini hanya akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri, politik, ekonomi maupun hubungan bilateral Cina dengan negara-negara Muslim akan menjadi titik awal kehancuran dan keruntuhan Cina di masa mendatang manakala simpati mulai pupus dan Cina hanya akan menjadi musuh ke dua bagi Negara Islam setelah Israel yang didukung oleh NATO.

Peran Pemerintah Indonesia yang menerapkan politik bebas aktif, sebenarnya cukup relevan untuk ikut serta menyelesaikan persoalan yang terjadi di negara lain, apalagi menyangkut nasib umat muslim, Pemerintah Indonesia cukup berpengalaman dalam mengurusi hajat hidup umat Islam yang dimanapun mereka berada sebenarnya sama saja. Konfilik etnis maupun Agama di Indonesia dapat selesai dengan baik dan ini merupakan langkah awal bagi Pemerintah Indonesia untuk turut serta aktif dalam menangani persoalan ethnis maupun agama di Negara-negara lain, terutama negara jiran sendiri seperti Myanmar, Filiphines maupun Thailand.

Harapan kita semoga awan kelabu yang melanda kehidupan umat beragama maupun kehidapan multi ethnis di mana pun mereka berada cepat berlalu, dari pada mempersoalkan perbedaan yang ada, bukankah lebih baik jika perbedaan itu dijadikan sebagai batas suatu eksistensi dari suatu kaum atau bangsa.....

0 komentar:

Posting Komentar